Monday, 12 November 2012

One Day with Journalist

Ini adalah tugas media relations. Tujuannya supaya Kita mengetahui bagaimana jurnalis bekerja. Selain itu sebagai seorang PR, Kami juga harus tahu bagaimana sosok PR yang baik menurut jurnalis. Jangan hanya dari sudut pandang PR, yuk langsung tanya sama jurnalisnya. Jurnalis tuh maunya PR kaya gimana sih???

Sebelumnya Kami sempat mewawancarai wartawan Kompas dan 'wartawan' Cek&Ricek. Akan tetapi pada akhirnya Kami lebih nyaman bersama Jurnalis yang satu ini. Jurnalis yang Kami ikuti sampai akhir ini adalah jurnalis Suara Pembaruan. Namanya Adi Marsiela. Kami sapa dengan panggilan "Kang Adi".

Hasil wawancaranya ada di temen niiih.. Aku kebagian bikin laporan hasil observasi. Maaf ya hanya bisa share hasil observasinya saja.
*Duh gatel pengen cerita dibalik layaaar.. Tapi nanti aja deh ya. Ini Aku ceritain pelaksanaannya aja*
Selamat membaca :)

Observasi
Setelah melakukan wawancara sebanyak dua kali dan mengetahui berbagai informasi dari seorang Kang Adi, pada pertemuan ketiga Kami bermaksud melakukan observasi dengan melihat dan mengikuti Kang Adi meliput berita.
Rabu, 31/10 Kami melihat Kang Adi melakukan peliputan mengenai pertemuan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan di gedung sate untuk membahas masalah banjir dan transportasi. Pukul 2 kurang 15, Kami sampai di depan Gedung Sate. Terlihat banyak wartawan sudah menunggu di depan pintu utama. Tidak sulit menemukan Kang Adi yang berambut gondrong dengan perawakan yang cukup besar diantara banyak wartawan. Langsung saja Kami menghampirinya. Sedikit percakapan mengcairkan kekakuan, ditambah candaan ringan dari rekan-rekan wartawan lain kepada Kami.
Tidak lama berselang, gerbang utama dibuka dan terlihat mobil dinas Land Cruiser B 1120 SMZ yang dikawal mobil polisi memasuki gerbang. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama gedung. Dengan sigap langsung saja Kang Adi menghampiri mobil itu dan memotret Jokowi. 
Kang Adi bersama wartawan lain ingin mengambil gambar
Kang Adi dan wartawan lain mengikuti Jokowi hingga pintu ruang pertemuan. Beberapa wartawan televisi ikut masuk dalam ruang pertemuan karena mereka memang membutuhkan rekaman video untuk ditayangkan. Kang Adi pun menunggu diluar. Jika wartawan suatu media bekerja berdua, fotografer dan reporter, Kang Adi hanya sendiri. Ia memotret dan mendapatkan berita secara lengkap sekaligus. Kami menunggu di depan ruang pertemuan sambil mengobrol mengenai para wartawan yang ada disana. Kang Adi saling sapa dengan wartawan lain disekitar Kami.“Itu wartawan, itu juga wartawan (sambil menunjuk kearah wanita). Disini memang jarang yang perempuan. Kalau acara fashion, banyak”, katanya saat Kami tanyakan mengenai wartawan wanita yang meliput. Kang Adi tiba-tiba menghampiri ajudan Jokowi yang sedang melintas didekatnya. Kang Adi menanyakan perihal pembahasan di dalam. Tidak lama beberapa wartawan mengerumuni ajudan itu. “Iya, inisiatif dong”, katanya saat Kami tanya mengenai wartawan yang mengikuti Kang Adi untuk mencatat pembicaraan ajudan.
Kang Adi sedang  menanyakan informasi kepada salah satu ajudan
Tidak lama Kami menunggu, salah seorang wanita subbag humas provinsi menghampiri Kang Adi dan mempersilakan Kang Adi masuk untuk mengambil foto di luar ruangan. ”Di, geura asup. Ulah lolobaan” Ada perasaan heran dalam pikiran Kami, mengapa subbag humas hanya menginformasikan kepada Kang Adi, terlebih dengan nada seperti sudah lama saling kenal. Oh Kami inget, Kang Adi memang sehari-harinya berada di gedung sate. Kemungkinan besar humas itu mengenal Kang Adi. Beberapa orang mengikuti Kang Adi memasuki pintu pertemuan.
Selesai melakukan peliputan didalam, Kang Adi kembali menghampiri Kami. Snack mulai dibagiakan kepada para wartawan. Tiba-tiba Kang Adi memperkenalkan Kami kepada seorang wanita yang sedang berjalan menghampiri. “Ibu itu humas disini. Dia yang suka ngurusin wartawan. Kalau protokoler kan ngurusin yang di dalam, kalau Kita diurusinnya sama humas. Kalau ada apa-apa, misalnya mau minta informasi mengenai gubernur, bilangnya ke si ibu ini. Nanti si ibu bilang ke Kabag, dari Kabag baru nyampein ke gubernur. Tapi kalau ada informasi, Kita ga bisa ngutip dari si ibu, dia hanya menyampaikan kepada Kabagnya, Kabagnya yang bicara”. Wanita bagian humas itu menghampiri Kami. Beliau sedikit bercerita tentang dirinya yag ternyata juga lulusan Fikom Unpad, satu angkatan dengan almarhum Bpk Elvinaro. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Kami menanyakan mengenai kerja sama humas dengan wartawan, dan pekerjaan beliau di sana. “Biasanya kalau abis kegiatan seperti ini, Kita bikin release, Kita kirim. Tapi kalau sekarang ga perlu. Udah banyak wartawan yang hadir. Wah repot tadi wartawannya banyak sekali. Malah ada yang bilang sampai 60 orang. Nih liat Kang Adi, mukanya kaya sereem. Padahal hatinya baik sekali”
Suasana keakraban humas dengan wartawan
Namanya Ibu Popi Purbawati. Beliau merupakan subag humas bagian publikasi. Kang Adi dan Ibu Popi saling bercerita kepada Kami. Dari cara bicaranya, terlihat sekali kepiawaian Ibu Popi dalam menjalin hubungan baik dengan media. Siapa yang tidak suka ketika dipuji. Wartawan juga manusia.







“Ini wartawan banyak banget. Biasanya paling 15, 17, sekarang 30an lebih. Tadinya Saya Cuma berempat yang tadi nunggu di depan. Tiba-tiba jadi banyak gini. Biasanya pada ada pesenan, ada titipan dari pusat. Udah ditelopon suruh ngeliput”, ujar Kang Adi. Kang Adi biasanya mengetik berita sekitar pukul 5 sore. Jika diatas jam 5, berita yang dikirim sulit untuk diterbitkan. 
Suasana pengetikan di press room gedung sate (foto diambil sebelum wawancara hari ke-2)
“Kita memble kalo ngirim berita malem. Percuma juga, bisa-bisa ga diterbitin.” Berbeda kalau beritanya memang berita yang sangat penting. “Yang disana kerja lembur kalau ada berita malam. Kalau udah sore, Kita telepon dulu sananya, mau dilanjutin apa engga, mau ditungguin apa engga. Kalau katanya ditungguin, baru Kita lanjutin”. Lanjut Kang Adi.
Kang Adi bergabung dengan beberapa wartawan untuk menunggu di pintu keluar ruang pertemuan. “Saya pindah ke sana ya. Mereka pasti keluar dari sana”. Tidak lama, kedua gubernur keluar dari ruang pertemuan. Banyak wartawan bergegas menuju ruangan dimana Gubernur Jabar dan DKI akan melakukan penjelasan dan tanya jawab mengenai hasil pertemuan kepada para wartawan. Kami mengikuti wartawan-wartawan tersebut. Mereka bersiap memosisikan kameranya di posisi strategis masing-masing. Di ruang itu Kami belum melihat Kang Adi. Pasti mengikuti Jokowi dan Aher dari pintu keluar, pikir Kami.
Jokowi dan Aher memasuki ruangan lewat pintu depan. Para wartawan tidak kehilangan kesigapannya dalam menyerap informasi yang disampaikan. Beberapa wartawan menaiki meja untuk menyimpan recorder di sebelah speaker yang menempel di atas tembok. Di belakang, Kami melihat Kang Adi sudah berdiri dengan memegang ponsel. Ia mengetik pembicaraan Jokowi dan Aher, begitu pula wartawan lain. Ada yang sibuk memotret, mencatat, dan mengetik. Jokowi dan Aher menjelaskan rencana kedepan, setelah itu para wartawan menanyakan berbagai hal. Wartawan bertanya dengan sopan dan kondusif, tidak berebut.
Para wartawan sedang mendokumentasikan informasi
Selesai penjelasan, Jokowi dan Aher keluar ruangan. Jokowi akan meninggalkan gedung sate, Aher pun mengantarkan hingga pintu depan. Dengan sigap para wartawan berlari ke depan para gubernur ini untuk mengambil gambar, termasuk Kang Adi. Seketika Kang Adi berada di barisan depan diantara para wartawan lain. Setelah sampai di gerbang utama gedung sate, Jokowi dan Aher berfoto bersama. Banyak wartawan yang mengerumuni dan mengambil foto kedua gubernur ini. “Pegangan tangan Pak, pegangan tangan”, terdengar suara wartawan dari bawah tangga pintu utama. Banyak wartawan memotret dari sisi yang tegak lurus dengan Jokowi dan Aher berdiri, tapi Kang Adi mengambil angel yang berbeda. Kang Adi dan beberapa wartawan menunggu dibawah tangga untuk menunggu wartawan lain membuka kerumunannya saat Jokowi melangkah. Diisitulah Kang Adi dan beberapa wartawan lain dapat leluasa mengambil gambar low angel. Jokowi meninggalkan gedung sate menuju ke mobilnya. Para wartawan kini mengerumuni pintu mobil. Jokowi meninggalkan mobil. Kang Adi melihat hasil jepretan di kameranya.
Kang Adi melihat hasil liputannya
Begitulah kegiatan Kang Adi di lapangan saat meliput pejabat publik di gedung sate. Pertemuan Kami dengan wartawan yang sehari-hari di gedung sate ini memberi Kami pengetahuan dan pengalaman baru. Berakhirnya liputan sore itu menutup perjumpaan Kami selama tiga hari dengan Kang Adi. Kami sangat berterima kasih atas bantuannya sehingga Kami dapat mengenal praktik kerja jurnalis dan hubungannya dengan humas di lapangan.





Teori Kebutuhan Maslow

1. Dasar Teori
Maslow's Hierarchy of Needs


Maslow mengungkapkan kebutuhan manusia terdiri dari lima kategori, yaitu kebutuhan fisiologis, keselamatan atau keamanan, rasa memiliki atau sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri, seperti yang digambarkan diatas. Menurut Maslow, kebutuhan ini berkembang dalam suatu urutan hierarkis. Kebutuhan sikologis merupakan kebutuhan yang paling kuat (prepotent). Kebutuhan paling kuat mengasumsikan bahwa kebutuhan paling kuat memengaruhi kebutuahan lainnya. Akan tetapi, bukan berarti kebutuhan lain tidak dapat aktif sebelum seluruh kebutuhan fisologis terpenuhi secara lengkap. Misalnya, Anda mungkin memerhatikan keselamatan meskipun Anda capai. Konsep prepotency juga mengasumsikan bahwa suatu kebutuhan yang terpenuhi bukan lagi merupakan suatu pendorong. Kebutuhan yang tidak terpenuhi akan mendorong orang untuk bertindak dan mengarahkan perilaku mereka pada suatu tujuan.
Maslow menyebut empat kebutuhan mulai dari kebutuhan fisiologis sampai kebutuhan harga diri dengan sebutan homeostatis. Homeostatis adalah prinsip yang mengatur cara kerja termostat (alat pengendali suhu). Kalau suhu terlalu dingin, alat itu akan menyalakan penghangat, sebaliknya kalau suhu terlalu panas, ia akan menyalakan dingin. Begitu pula dengan tubuh manusia, ketika manusia merasa kekurangan bahan-bahan tertentu, dia akan merasa memerlukannya. Ketika dia sudah cukup mendapatkannya, rasa butuh itu pun kemudian berhenti dengan sendirinya.
Maslow memperluas cakupan prinsip homeostatik ini kepada kebutuhan-kebutuhan tadi, seperti rasa aman, cinta dan harga diri yang biasanya tidak kita kaitkan dengan prinsip tersebut. Maslow menganggap kebutuhan-kebutuhan defisit tadi sebagai kebutuhan untuk bertahan. Cinta dan kasih sayang pun sebenarnya memperjelas kebutuhan ini sudah ada sejak lahir persis sama dengan insting.
2. Kasus dan Pembahasan
2.1 Kasus
85 Persen Buruh Tidak Mendapatkan Upah Layak
Penulis : Gandang Sajarwo | Senin, 30 April 2012 | 22:19 WIB


Buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Nasional berdemontrasi di Depan Gedung Grahadi, Surabaya, Kamis (26/4/2012). Selain mengajak kaum buruh indonesia dalam Hari Buruh Sedunia pada 1 Mei, dalam demontrasi tersebut buruh menuntut upah kerja layak, hak berserikat, serta penghapusan sistem kerja kontrak.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Upah buruh di Indonesia masih sangat rendah. Dari sekitar 46 juta buruh, 85 persen atau sekitar 39 juta buruh belum mendapatkan upah yang layak. Selain itu, walau dari sisi jumlah mereka mayoritas, namun nilai tawar buruh di Indonesia juga sangat rendah. Kondisi itu disebabkan adanya kebijakan outsourcing atau tenaga alih daya yang berlaku di Indonesia.
Demikian diungkapkan Ketua Dewan Pembina Partai Buruh, Bugiakso saat persiapan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Yogyakarta, Senin (30/4/2012).
Lebih lanjut Bugiakso mengatakan kebijakan outsourcing atau tenaga alih daya yang diterapkan perusahaan merupakan akar persoalan rendahnya upah buruh di Indonesia. Tenaga outsourcing tidak mendapat upah yang layak, buruh tetap pun tidak mendapatkan upah yang layak.
"Memang aneh walau kebijakan tentang outsourcing dalam UU Ketenagakerjaan Tahun 2003 telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi, namun kenyataannya hingga saat ini masih banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan itu," kata Bugiakso.
Persoalan buruh lainnya, lanjut Bugiakso, adalah besaran UMP yang jauh dari layak. Hal itu disebabkan rendahnya nilai tawar para buruh terhadap pengusaha. Untuk itu para buruh perlu berserikat dan berorganisasi untuk dapat bersama-sama memperjuangkan kepentingan mereka.
"Kesadaran para buruh di Indonesia untuk berserikat dan berorganisasi juga masih rendah. Dari sekitar 46 juta buruh, baru 15 persen yang sudah menjadi anggota serikat buruh," kata Bugiakso.
Sementara Ketua Umum Partai Buruh, Sony Pudjisasono dalam kesempatan yang sama mengatakan, dalam Rakernas Partai Buruh yang berlangsung di Yogyakarta, pihaknya selain akan merumuskan strategi pemenangan pada 2014, juga akan memperingati Hari Buruh atau May Day.
"Bertepatan dengan Hari Buruh yang jatuh Selasa (1/5/2012) ini, Partai Buruh akan memperingatinya secara besar-besaran di Jogja Expo Center (JEC). Ditargetkan 10.000 orang mulai dari pengurus partai dari 33 provinsi hingga kalangan masyarakat seperti petani, nelayan dan Pedagang Kaki Lima (PKL) akan hadir. Tiga tuntutan utama yang disampaikan pada May Day 2012 ini diantaranya mengenai upah layak buruh, penghapusan tenaga outsourcing serta UU Perburuhan," kata Sony.
Sementara Polda DIY akan menerjunkan 1.754 personel untuk mengamankan aksi unjuk rasa dalam memperingati Hari Buruh.
Sumber berita :

  
2.2 Pembahasan Analisis Kasus

Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan yang bersifat fisiologik (kebutuhan akan udara, makanan, minuman dan sebagainya) ini dinamakan juga kebutuhan dasar (basic needs) yang jika tidak dipenuhi dalam keadaan yang sangat estrim (misalnya kelaparan) manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu.
Dari 46 buruh, 85 persen belum mendapatkan upah yag layak. Setiap daerah memiliki UMP dan UMR yang berbeda. UMP yang ditetapkan gubernur salah satunya didasarkan pada nilai Kebutuhan Layak Hidup (KHL) kabupaten/kota terendah di provinsi yang bersangkutan dengan mempertimbangkan produktifitas, pertumbuhan ekonomi, kondisi pasar kerja dan usaha yang paling tidak mampu. Yang perlu dibahas adalah tidak semua buruh tinggal di daerah yang sama dan memiliki kebutuhan yang sama. Kebutuhan mereka mungkin tercukupi namun dengan cara hidup yang dapat dikatakan ‘pas-pasan’, sedangkan mereka memiliki tanggungan dirumah.
Kebutuhan Rasa Aman
Menurut salah satu kutipan kasus diatas, kesadaran para buruh di Indonesia untuk berserikat dan berorganisasi juga masih rendah. Dari sekitar 46 juta buruh, baru 15 persen yang sudah menjadi anggota serikat buruh. Mereka yang tidak tergabung dalam anggota serikat buruh tidak begitu memiliki rasa perlindungan dari organisasi. Sebagian kecil lainnya yang bergabung dalam serikat itu memiliki rasa perlindungan dari organisasinya, namun belum tentu memiliki rasa perlindungan pula dari organisasi tempat mereka bekerja. Kebanyakan buruh kini telah  memiliki rasa perlindungan dari organisasi, biasanya organisasi memberikan asuransi terhadap pekerjanya. Begitu pula pada sistem keamanan pekerja. Organisasi biasanya memiliki standar keselamatan kerja, dan jaminan yang diberikan kepada pekerja misalnya melalui jamsostek. Namun pada kenyataannya, buruh akan merasa cemas ketika masa kontraknya akan habis. Organisasi dapat dengan mudah memberhentikan buruh dan mengganti dengan outsorcing karena organisasi tidak perlu mengurus segala hal diluar pekerjaannya karena sudah ditangani oleh pihak lain. Hal ini menjadikan buruh cemas apakah mereka dapat memperpanjang kontrak kerjanya atau tidak. Kasus yang dibahas diatas adalah organisasi yang tetap menggunakan sistem outsourcing, padahal undang-undangnya telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.
Kebutuhan Dicintai dan Disayangi
Untuk memenuhi kebutuhan diatasnya, tidak harus memenuhi semua kriteria kebutuhan yang ada didalamnya. Kebutuhan dibawahnya sebagai penunjang terpenuhinya kebutuhan diatasnya, namun tidak menutuo kemungkinan untuk dapat memenuhi kebutuhan diatasnya tanpa memenuhi seluruh kebutuhan sebelumnya.
Kebutuhan yang lebih tinggi ini dapat dirasakan buruh yang tergabung dalam persatuan buruh. Apalagi pada Hari Buruh mereka dibantu oleh Partai Buruh untuk memajukan kualitas hidup mereka. Buruh merasa dicintai oleh Partai Buruh yang menjadi ingrupnya, terlepas dari pembahasan mengenai politik.
Buruh yang melakukan aksi besar-besaran di Jogja Expo Centre merupakan suatu cerminan adanya suatu perasaan yang sama, yang dapat saling memahami satu sama lain terutama dalam masalah upah yang mereka terima.
Kebutuhan harga diri
Aksi yang dilakukan untuk mengajak para buruh untuk menuntut gaji yang layak dan penghapusan sistem outsourcing merupakan suatu tindakan bahwa selama ini tenaga mereka tidak dihargai. Organisasi hanya memberikan upah yang belum dirasakan layak oleh buruh. Outsourcing merupakan bentuk praktis yang dilakukan organisas, buruh tidak merasa adanya harga diri yang membedakan antara buruh dengan tenaga luar
Kebutuhan aktualisasi diri
Bagaimana buruh dapat mencapai kebutuhan ini, yang paling tinggi tingkatannya, sedangkan kebutuhan pokoknya saja belum mereka dapatkan. Aktualisasi diri bagi mereka bukanlah hal yang paling mereka inginkan. Mereka masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan utama untuk mendapatkan kesejahteraan.
3. Simpulan dan Saran
2.1 Simpulan
Buruh masih menjadi masalah bagi negara Indonesia yang memiliki banyak penduduk dengan kualitas pendidikan yang rendah. Pihak organisai yang memberikan upah ingin mendapatkan laba sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan tertentu, sehingga harus diperhitungkan pula berapa upah yang layak dikeluarkan menurut versi pemberi upah. Sebagai seorang PR, Penulis mengambil kesimpulan untuk bertindak dalam hal yang tidak nyata. PR tidak bisa memberikan gaji sesuai dengan kebutuhan mereka, namun dengan komunikasi yang baik, misalnya menciptakan rasa saling pengertian daiantara sesama yang bekerja pada organisasi, dapat menciptakan keharmonisan dalam mencapai tujuan bersama.
2.2 Saran
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dari makalah ini. Penulis menerima masukan dari berbagai pihak untuk membuat Penulis lebih baik dalam membuat makalah. Semoga Penulis dapat membuat makalah yang lebih baik lagi.

Daftar Pustaka
Pace, R. Wayne dan Don F. Faules.2006. Komunikasi Organisasi Strategi Meningkatkan Kinerja Organisasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Sarlito W. Sarwono. 2002. Berkenalan dengan Aliran-aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang.


Surat Bisnis

1. Contoh Direct Request

2. Contoh Badnews

3. Contoh persuasif

Surat persuasif sudah benar belum seperti itu? Silakan cross check lagi ya. Saya juga belum tau benar tidaknya. Besok baru akan dibahas di kelas.


Tuesday, 23 October 2012

Awal Jam Terbang Larry King


Larry King merupakan seorang yang cukup dikenal dalam dunia komunikasi. Kemampuannya dalam mencairkan suasana dan mengarahkan topik pembicaraan dengan baik membawa ia –Bill Gilbert, hingga pada nama terkenalnya sekarang ini.
Suatu ketika ia pindah dari tempat tinggalnya. Di kediamannya yang baru, ia sering melewati satu stasiun radio. Ia sangat ingin berada didalamnya untuk siaran. Saat itu, kemampuannya belum sehebat sekarang, namun semangat dan optimismenya sudah boleh diacungi jempol. Berkali-kali Bill melihat penyiar yang keluar masuk dan membayangkan andai itu adalah dirinya. Sampai pada suatu ketika ia memberanikan diri untuk menanyakan kepada pimpinan stasiun penyiaran itu mengenai lowongan pekerjaan, namun jawabannya hanyalah pujian mengenai suaranya yang bagus namun pelungnya belum ada. Temannya berkata bahwa itu hanylah basa-basi untuk mnolak dengan cara yang sopan dan tidak menyakiti hati, namun Bill tetap semangat dan yakin suaranya bagus dan ia akan menunggu sampai ada lowongan penyiar radio. Setiap kali Bill melewati stasiun radio itu, ia berharap ada penyiar yang mengundurkan diri agar bisa digantikan olehnya. Benar saja, seorang penyiar mengundurkan diri.
Ada suau cerita ketika ia akan mewawancara sseorang pilot yang berhasil mengalahkan lima pesawat musuh saat terjadi perang duni II. Sebut saja ia ‘jagoan’. Pihak radio mengundang jagoan untuk on air selama kurang lebih satu jam. Pilot itu memang ahli dalam hal pesawat yang memang menjadi kebiasaannya, namun untuk berbicara di corong hitam yang didengar oleh entah siapa, tunggu dulu. Bill menanyakan segala hal kepada jagoan, namun hanya ada tiga jawaban; ya, tidak, tidak tahu. Waktu berjalan sangat lambat. Baru 7 menit, dan masiah bersisa 53 menit lagi. Sewaktu-waktu pendengar dapat saja memindahkan salurannya pada acara lain. Akan tetapi Bill dapat memecah suasana. Ia menanyakan hal-hal yang membuat jagoan gugup karena jagoan tidak tau siapa yang jadi pendengarnya. Bill tidak kehabisan akal, ia mengganti daftar pertnayaan dengan menanyakan kejadian berlangsungnya peristiwa itu. Jagoan mulai terbiasa dengan suaranya dan ia semakin yakin dalam berbicara.
Bill Gates adalah seorang yang penuh semangat dan penuh keyakinan. Kiprahnya semakin melebar, namanya semakin dikenal. Hingga pada suatu hari setelah mengalami beberapa pengalaman di tempat lain, ia dibuatkan acara Lary King oleh salah satu stasiun televisi swasta.
Begitulah kisah perjalanannya hingga disebut Larry King. Saya ingat kalimatnya bahwa kejujuran, sikap yang benar, minat terhadap orang lan, dan keterbukaan terhadap diri sendiri menjadi dasar-dasar percakapan yang berhasil. 

Keharmonisan Alam dengan Masyarakat Baduy


Baduy merupakan suatu nama suku di Kabupaten Lebak dengan berbagai cirri khas etnik dan adat kebiasaannya. Baduy merupakan salah satu tujuan wisata atau penelitian bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dekat keharmonisan alam dengan masyarakatnya. Tidak jarang para pelajar, mahasiswa, dosen, turis manca negara, mengunjungi Baduy untuk mengenal alam lebih nyata.
Jangan pernah membayangkan wisata cantik ala travelista, disana merupakan daerah gunug hutan dengan perjalanan yang menyenangkan bagi para backpacker. Untu sampai ke Desa pertama saja, perjalanannya sudah bergelombang seperti gelombang longitudinal. Alam Baduy sangat asri. Sebelum melewati track Baduy yang sesungguhnya, biasanya Kita akan diberi waktu untuk mengenal Baduy lewat tetua adat yang biasa disebut jaro. Setelah itu, barulah kKita dipersilakan untuk melewati track menuju Baduy yang sebenarnya.
Sejuknya Baduy seperti sejuknya hutan tropis, namaun tack alam Baduy tidak landai karena berupa gunung. Kita harus melewati tanjakan, turunan, dan menguinjak batu-batu alam yang ukurannya cukup besar sebagai pijakan. Jurang di kiri, tebing di kanan, sawah di tempat yang miring sungai yang jernih, Kita lewati itu semua. Tanjakan 45 derajat bukan hal yang tidak mungkin akan dilewati.
Baduy terdiri dari Baduy dalam dan Baduy luar. Penduduk yang berawa di kaki dan perut gunung disebut masyarakat Baduy luar. Dari segi pakaian, masyarakat Baduy luar menggunakan pakaian serba hitam, sedangkan baduy dalam menggunakan pakaian berwarna putih Bagi wanita yang mulai beranjak dewasa, tidak diperbolehkan utnuk keluar rumah sampai mereka manikah. Bahasa yang digunakan adalah sunda lama, dengan agama sunda wiwitan bagi masyarakat Baduy dalam.
Mayarakat baduy terbiasa hidup gotong-royong. Misalnya saja saat dibangun rumah baru, penduduknya akan saling gotong royong menyelesaikan rumah itu bersama-sama tanpa mengharapkan upah bayaran. Karena banyak penduduk yang membantu pengerjaan pembuatan rumah, hanya membutuhkan waktu harian untuk menyelesaikan pembuatannya. Bercocok tanam merupakan salah satu kegiatan utama mereka. Mereka tidak merusak alam untuk menanam tanaman. Misalnya untuk menanam padi, mereka tidak merubah pola tanah yang ada, padi tetap ditanam pada tanah yang miring. Tetap digemburkan namun tidak merubah bentuk kemiringan lahan.Mereka biasa menyimpan hasil panennya di suatu lumbung yang terdapat di bagian atas rumah mereka. Nama tempat penyimpanan padi adalah leuit. Merek amenyimpan padi sebagai simpanan ketika musim paceklik tiba.
Bagi warga Baduy dalam, mencuci pakaian, mandi, dan hal-hal sejenis yang biasa Kita lakukan dengan menggunakan baghan kimia, mereka tidak melakukannya. Cukup menggunakan air. Itulah alasan air di Baduy dalam jernih, bahkan sering langsung diminum.

Tunda Kami di Tahun Baru

Liburan tahun baru tahun lalu, saya bersama enam orang teman pergi ke suatu pulau di sebrang Teluk Banten. Namanya Pulai Tunda. Ada yang mengatakan pulau ini dulunya tempat penundaan para tawanan yang tidak mau menuruti perintahan Belanda. Cerita tutur itu mungkin benar, mungkin juga tidak. Tidak ada sejarah tertulis mengenai cerita masa lampau pulau itu
Pulau Tunda adalah pulau yang memiliki cukup banyak potensi alam yang indah dan belum banyak tersentuh tangan-tangan jahil manusia. Wajar saja, belum banyak yang mengetahui keindahan bahari di  pulau ini. Salah satu alasannya, karena Pulau Tunda belum menjadi rekomendasi tujuan wisata di dinas pemerintahan.
Menggunakan kapal kecil bermesin lebih kurang selama tiga jam dari dermaga di teluk Banten, akhirnya saya tiba di Pulau Tunda. Pertama kali menapaki kaki di pulau itu, Kami disambut oleh teman-teman komunitas bakau yang sebelumnya telah Kami kabari mengenai kedatangan untuk tahun baru Kami di pulau itu. Teman-teman komunitas bakau menjelaskan di tepi termaga mengenai kegiatan yang akan Kami lakukan dua sampai tiga hari kedepan. Sejenak Kami beristirahat untuk menghilangkan sedikit rasa lelah diperjalanan laut selama tiga jam. Kami dipinjami rumah yang cukup besar oleh komunitas bakau. Saat itu pukul 4 sore, Kami sempat menikmati kesegaran udara sore di sekitar halaman rumah yang tidak jauh dari pantai itu. Pulau Tunda ditinggali oleh penduduk yang tidak begitu banyak.
Hari mulai gelap, malam itu Kami hanya mengobrol tentang penduduk sekitar dan kegiatan sehari-harinya sambil memakan ikan bakar yang telah Kami bakar sebelumnya bersama teman-teman komunitas bakau yang datang membawa ikan. Ternyata, tidak ada rumah penduduk selain di bagian selatan pulau.
Pagi datang, Kami diantar untuk memasuki kawasan hutan bakau. Suasana hutan bakau yang belum pernah Kami rasakan sebelumnya. Berbeda sekali jika dibandingkan dengan suasana hutan yang pernah saya lihat di televisi mengenai hutan bakau. Hutan bakau disini tumbuh rapi dan seperti baisan yang kemudaian menjadi lorong dan menyambut jalur perjalanan orang-orang yang melewatinya. Beberapa burung beterbangan dan hinggap diantara batang pohon. Kaki Kami menginjak pasir pantai, mata kaki Kami sedikit tenggelam dengan air  yang sangat jernih diatas pasir itu.  Perjalanan hutan bakau cukup panjang dan melelahkan, namun mengasyikkan. Kami menyusuri hutan bakau dari bagian timur pulau, hingga sampailah Kami pada titik akhir perjalan hutan bakau, yaitu di utara pulau. Belum puas dengan keindahan hutan bakau, Kami snorkling di pantai utara pulau. Teman komunitas bakau membawa alat snorkling cukup banyak, cukuplah untuk Kami snorkling bersama.
Jam makan siang membuat perut Kami keroncongan. Kami dan beberapa anggota komunitas bakau menyelam ke laut untuk mencari binatang yang dapat Kami bakar untuk dimakan. Cukup banyak tangkapan Kami saat itu. Tidak semua nama binatang itu Kami ingat, yang jelas rasanya enak. Hutan bakau, terumbu karang dan ikan di dalam air, memakan hasil laut  yang masih segar, dan berfoto tentunya, membuat Kami lupa dengan waktu yang mulai sore. Kami kembali ke rumah.
Malam segera hadir. Malam itu adalah malam tahun baru. Malam yang berbeda dengan malam tahun baru biasanya. Tidak ada kembang api, tidak ada petasan, atau anak-anak yang sekadar berlarian. Seperti pulau yang tak berpenghuni. Mungkin sebagian besar penduduk yangmenggantungkan hidupnya dari hasil laut ini sudah lelah dengan pekerjaannya siang tadi, atau mereka sedang bersiap untuk mendapatkan melaut nanti malam. Entahlah.
Setelah makan malam, Kami ditawari untuk memancing di di dermaga tempat perahu ikan bersandar, yaitu di barat pulau. Melewati tahun baru dengan memancing, sepertinya seru. Itu yang Kami pikirkan. Perjalanan Kami menuju pantai barat sekitar satu setengah jam. Cukuplah membuat Kami menghangatan badan yang dingin oleh angin malam. Lampu rumah semakin lama semakin remang, dan jalan semakin lengang. Hanya ada suara gesekan sandal dan candaan ringan Kami.
Tibalah Kami di pantai barat pulau. Kami sempat memancing sebentar. Menjelang tengah malam, air semakin pasang. Memancing pun sudah tidak bisa lagi dilakukan. Angin semakin kencang, bendera-bendera kecil nan usang di perahu berkibaran. Lima menit lagi tepat pukul 12 malam. Komunitas Bakau menyuruh Kami untuk berbaris satu banjar di ujung dermaga menghadap ke laut lepas. Seperti ingin memperlihatkan sesuatu, teman-teman Komunitas Bakau hanya berkata “siap ya. Ada hantu laut nanti”. Tidak lama setelah itu, sejauh titik pandang mata, muncullah cahaya-cahaya merah dari permukaan laut yang letaknya cukup jauh dari tempat Kami berdiri. Cahaya-cahaya merah itu perlahan namun semakin banyak dengan alur yang santai dan stabil, bermunculan vertikal cukup tinggi lalu menghilang. Ada pula yang diam di udara, atau kemudian bergerak horizontal menuju cahaya yang lainnya. Sangat indah, sungguh menakjubkan. Benda apakah itu? Kami bertanya-tanya sendiri, karena teman-teman komunitas menyebutnya dengan istilah ‘hantu laut’. Berbentuk seperti ikan yang berdiri, terbang, bercahaya terang, entah apa. Hawa dingin angin yang mengibaskan pakaian Kami seolah terlupakan oleh cahaya-cahaya itu. Cahaya merah yang terbang lembut sepserti menari membuat formasi. Satu jam kemudian, cahaya itu mulai turun kembali ke permukaan laut dengan lembut. Setelah tu Kami saling berpelukan mengucapkan selamat tahun baru dan mendoakan untuk hal yang lebih baik di tahun selanjutnya.
Itulah cerita pengalaman perjalanan saya. Cerita mengenai Pulau Tunda Kami di tahun baru.

Semangat Pulang saat Jadwal Lengang (Ups, ada yang kelupaan)


Siapa  yang tidak ingin pulang ke rumah asal saat ada kesempatan libur yang lumayan panjang. Bagi mahasiswa yang kost, pulang ke rumah menjadi hal yang menyenangkan –terutama bagi mereka yang aktif dalam berbagai organisasi, ada libur sedikit saja, langsung dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Semester dua jauh berbeda dengan semester satu. Semester ini merupakan hari-hari tersibuk, terutama menjelang UAS. Tidak heran jika jarang pulang ke rumah pada semester itu. Kuliah senin hingga jumat, tugas kelompok, menjadi beban tersendiri jika tidak pandai-pandai mencari waktu untuk mengembalikan kesegaran otak. Pernah merasa iri kepada teman-teman yang hanya kuliah sampai hari kamis. Mereka nisa pulang lebih awal dan mengerjakan tugas kuliah di rumah.
Semester tiga mungkin akan lebih sibuk dari semester lalu, tapi ada sedikit rasa syukur karena kuliah hanya sampai hari kamis. Sampai pada suatu hari awal-awal kuliah di semester tiga, pekan itu saya tidak memiliki jadwal kegitan selain kuliah. Saya memutuskan untuk pulang ke rumah di Serang. Saya sangat bersemangat untuk pulang.
Ketika itu saya memutuskan untuk berkunjung ke kost teman dan mengerjakan tugas disana. Namun seperti biasa, saya sering tidak kembali ke kosan alias terlelap di kost teman. Pagi buta saya bangun dan segera pulang ke kostan karena hari itu ada kuliah pagi. Ya, kuliah pagi hingga siang, lalu pulang. Begitu saja pikiran saya sejak semalam.
Sampailah Saya di depan halte Fikom tercinta. Salah satu teman menyapa ‘Nida, kuliah? Kok Alita(teman sekalas saya yang kost di sebelah kamarnya) enggak mandi tadi?’ ‘Ah, kuliah kok. Duluan ya, telat ni’, langsung saja Saya mengakhiri pembicaraan. Saya memegang ponsel  Saya menuju gedung perkuliahan dan langsung menanyakan pada Alita, ‘Lit, emang ga kuliah?’ ‘katanya libur, diganti besok kan?’. Langsung saja Saya menghentikan langkah terburu-buru itu dan duduk di bangku lantai satu gedung. ‘Terus jam kedua gimana Lit?’. Alita menjawab tidak tahu, dan merekomendasikan Saya untuk menanyakan pada KM. Perasaan Saya mulai tidak enak. Biasanya kalau tidak ada kelas, ada informasi yang disebar. Seketika Saya tersadar untuk menanyakan ‘Lit, ini hari apa?’. ‘Rabu’. Oh My God, Saya sakah hari. Saya kira hari itu adalah hari Kamis. Begitu bersemangatnya kah Saya untuk pulang sampai melupakan satu hari? 

Friday, 19 October 2012

Tokoh Filsafat - Hegel


George Wilhelm Friedrich Hegel merupakan seorang tokoh utama dalam idealisme Jerman. Ia merupakan salah satu tokoh filsafat spekulatif terkenal. Hegel dilahirkan di Stuttgart, Jerman pada tahun 1770. Hegel belajar teologi dan filsafat di Tubingen, bersama Schelling. Selama beberapa tahun, Hegel bekerja sebagi dosen pribadi, tetapi berkat suatu warisan ia mampu melanjutkan studi di Jena, kemudian ia menjadi dosen filsafat.
Ketika kota Jena diduduki oleh Napoleon pada tahun 1806, Hegel melarikan diri ke Nurnburg dan menjadi rektor Gymnasium. Pada tahunn 1817 Hegel diundang untuk menjadi guru besar di Heidelberg dan satu tahun kemudian di Berlin. Hegel menjadi sangat populer disana dan disebut “professor professorum”. Banyak mahasiswa datang dari mana-mana untuk mendengarkan ajarannya. Tahun 1813 ia meninggal di Berlin.
Tulisan-tulisan penting
1807                - Phanomenologie des Geistes (Fenomenologi Roh)
1812-1816       - Wissenschaft der Logik (Ilmu Logika)
1817                - Enzyklopedie der philosophischem Wissenschaften (1830 edisi baru)
1821                - Grundlinien der Philosophie des Rechts (Garis-garis dasar filsafat  hukum)

Pikiran-pikiran pokok
a.       Idealisme mutlak
Orientasi filsafatnya adalah keagamaan yang kuat. Kant telah mengajarkan bahwa manusia hanya mengenal gejala-gejala, “fenomin-fenomin”. Benda-benda yang diamati oleh pancaindera diberi struktur oleh kategori-kategori dari akal. Akan tetapi menurut Hegel, segala sesuatu dapat diketahui. Menurut Hegel, Kant berbuat kebingungan kategori dalam mempermasalahkan eksistensi Tuhan sebagai All Perfect Being. Hegel menyatakan kekeliruan Kant sehubungan dengan perbedaaan kategori, finite dan infinite. Kata Hegel, jangan menyamakan eksistensi Tuhan (infinite) dengan eksistensi yang finite.
b.      Struktur dialektis filsafat Hegel
Hegel mengatakan bahwa proses historis bersifat dialektis. Dialektika berasal dari kosa kata Yunani Kuno yang merujuk semacam pemikiran. Dalam karyanya, dialektika ini menunjukkan suatu suatu proses pemikiran atau logika.
Suatu pernyataan khusus diungkapkan (tesis), yang selanjutnya ditarik kontradiksi dari pernyataan tersebut. Dari situ, diperoleh suatu konsepsi baru dengan penekanan pada aspek kontradiktifnya (antithesis). Akhirnya akan ditemukan suatu resolusi atau perpaduan antara dua pandangan ini (sintesis). Hegel memandang keseluruhan sejarah manusia sebagai penampakan dari pola ini yang mana periode watu tertentu memuat beberapa konsepsi mengenai hal-hal tertentu dan konsepsi tersebut memuat di dalamnya kontradiksi-kontradiksi atau kesulitan-kesulitan tertentu yang akhirnya menjadi eksplisit. Kontradiksi-kontradiksi tersebut ditransendensikan oleh suatu konsepsi baru akan suatu hal dan demikian seterusnya. Sepanjang proses ini, Roh semakin mengenal dirinya dengan baik sampai pada tingkat ultimo, yakni disadarinya pengetahuan Absolut.[1]
Apa persinya dialektika Hegel?
Pertama, berpikir secara dialektis berarti berpikir dalam totalitas. Totalitas berarti keseluruhan yang mempunyai unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan diingkari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), dan saling bermediasi (memperantarai dan diperantarai).
Kedua, seluruh proses dialektis itu sebenarnya merupakan “realitas yang sedang bekerja”. Disini menjadi jelas bahwa proses dialektis yang meliputi kontradiksi negasi dan mediasi itu bukan semata-mata abstrak, melainkan terjadi dalam realitas.
Ketiga, berpikir dialektis berarti berpikir dalam perspektif empiris-historis. Pemikiran dialektis menolak pemikiran yang sama sekali formal. Pemikiran dialektis menekankan isi atau substansi dari masing-masing kenyataan empiris yang tidak boleh saling mengecualikan. Pemikiran dialektis mengarah pada pendekatan yang lebih kaya.
Misalnya, ia tidak berpikir tentang “lurus” sebagai lawan “tidak lurus”, melainkan sebagai berlawanan dengan “bengkok”, “melengkung”, “zig-zag”, dan sebagainya.
Keempat, berpikir dialektis berarti berpikir dalam kerangka kesatuan teori dan praxis.
Pemikiran dialektis tidak mengandaikan adanya kesenjangan antara teori dan praxis yang harus dijembatani, melainkan bagaimana suatu teori dapat membuahkan praxis. Menurut Hegel, teori tersebut harus berpangkal pada realitas, termasuk kemampuan kita untuk mengubah realitas. Teori ini tidak lagi membutuhkan aplikasi terhadap realitas, sebab realitas sudah termasuk didalamnya. Teori macam ini sifatnya “afirmatif”, artinya mau menyatakan diri menjadi realitas. Hegel yakin hal tersebut bisa dilaksanakan karena pada hakekatnya kesadaran (teori) sudah mencapai kesempurnaan dalam roh, didalamnya terkandung realitas yang sudah saatnya “diafirmasikan” (dinyatakan keluar).
The phenomenology of Spirit adalah usaha Hegel untuk menyelidiki sejarah dengan proses dialektikal pemikiran. Marx, murid Hegel yang mempelajari Hegel secara sungguh-sungguh, menyebutkan buku itu sebagai “tempat kelahiran yang sejati dan rahasia atas filsafat Hegel.” Bagi Hegel, fenomenologi adalah studi tentang penampakan, fenomena, cara berada objek-objek terhadap kita sejauh yang kita tangkap adalah ilmu yang benar. Fenomenologi ini dilawankan dengan metafisik. Roh adalah dunia Hegel bagi Akal Kosmik yang mengenal dirinya sendiri dalam alur proses historis dan dialektikal yang terjadi. Buku tersebut menyiratkan suatu usaha Hegel dalam memeriksa dinamika kerja Roh yang tampak pada umat manusia. Menurut Hegel buku tersebut adalah kebenaran sejarah manusia dalam segala maknanya dan yang kepadanya kita semua diarahkan.
Dialektik merupakan suatu “irama” yang memerintahkan seluruh pikiran Hegel. Kelemahan filsafat Hegel antara lain bahwa segala sesuatu “dicocokkan” dengan struktur ini, “dipaksakan”untuk menerima bentuk yang sesuai dengan keseluruhan.[2]
c.       Keyakinan dasar
Menurut Hegel, “ide yang dapat dimengerti” dan “kenyataan” itu sama. Rasionalitas dan realitas itu sama, tidak ada perbedaan antara “rasio” dan “realitas”. Yang dimengerti itu real, dan yang real itu dimengerti. “Berpikir” dan “ada” itu sama. Seluruh kenyataan itu satu proses dialektis.
d.      Roh
Hegel mengusulkan idealisme absolut. Ia berpandangan bahwa realitas tidak dibentuk oleh pikiran individu tetapi oleh suatu Akal Kosmik tunggal yang disebut Roh. Hegel mengatakan, seluruh kenyataan merupakan satu “kejadian” besar, dan kejadian ini adalah “kejadian  roh”.
Roh ini adalah Allah. Bukan Allah sebagai “persona”, “Allah yang sama sekali lain”(“Transendensi”), melainkan suatu Allah yang betul-betul “imanen”.  Pada diri Hegel, alam hanya merupakan satu “tahap” dari kejadian Allah. Pendapat Hegel cukup berbeda dari pikiran kristiani. Agama menurut Hegel kurang sempurna: agama itu tahap terakhir ke arah kebenaran filsafat. Agama memberi kebenaran tentang Allah dalam bentuk anggapan-anggapan. Filsafat memberi kebenaran yang sama dalam bentuk satu-satunya yang patut yaitu bentuk pengertian-pengertian.[3]
Menurut Hegel, keseluruhan sejarah manusia  adalah Roh yang memahami dirinya sebagi suatu realititas. Hal ini menjadi kunci pemikiran Hegel.
Hegel menyatakan bahwa ada berbagai cara untuk memandang dunia. Ada sejumlah “bentuk-bentuk kesadaran”. Bentuk-bentuk kesadaran tersebut menyatakan lebih baik atau mungkin lebih lengkap, bahwa sesuatu  muncul sebagai bagian dari keseluruhan.
Proses historis cenderung menuju pada pandangan sempurna tentang dunia. Sepanjang proses sejarah ini,  Roh mengenali dirinya semakin baik, kebenaran berkembang dan dalam segi literer hal yang sama terjadi pada realitas. Sejarah dalam kata lainnya, sedang menuju suatu tempat dan Hegel mempelajarinya, mengurai maknanya. Dalam arti ini, Hegel adalah filsuf sejarah yang pertama[4]
Kaitan Pemikiran Hegel dengan ilmu Komunikasi
Hegel mengatakan, “ide yang dapat dimengerti” dan “kenyataan” itu sama. Jika kalimat Hegel dikaitkan dengan kalimat Floyd L. Ruch yang mengatakan “berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampak” , terdapat korelasi diantara keduanya. Misalnya, saya memiliki uang sebanyak lima milyar. Jika setiap hari saya hanya membelanjakannya seratus ribu, dalam berapa tahun uang saya akan habis? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya tidak perlu menghadirkan uang lima milyar. Saya cukup menggunakan angka, kali, bagi, jumlah, atau kurang (dalam komunikasi disebut lambang verbal). Secara tepat, saya dapat menjawabnya melalui berpikir dan berhitung. Caranya dapat dimengerti, masuk akal, dan akan sesaui dengan kenyataan.  
Kalimat Hegel yang menyatakan bahwa rasionalitas dan realitas itu sama, tidak ada perbedaan antara “rasio” dan “realitas”, memang dapat dibuktikan dari contoh hitung-hitungan diatas. Akan tetapi, kalimat ini tidak sejalan dengan pengertian realitas yang sesungguhnya.
Jika dalam hal menghitung menggunakan rasional sesuai dengan realitas, belum tentu pada keadaan sosial sesuai realitas. Misalnya, seorang mahasiswa mendapat IPK 3,75. Secara rasional, ada kemungkinan-kemungkinan jawaban yang diputuskan dengan alasan yang rasional pula. Misalnya dia mahasiswa yang rajin belajar, sedang beruntung, atau menyontek kepada teman sebelahnya saat ujian. Akan tetapi kita tidak tau realitasnya, siapa sangka ternyata nilai mahasiswa tersebut tertukar dengan nilai mahasiswa kelas lain.
Charles E. Osgood, G. Suci, dan P. Tannenbaum membuat suatu instrumen Beda-Semantik untuk mengukur keakuratan suatu realitas. Dalam buku Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar karya Prof. Deddy Mulyana, dikatakan bahwa realitas yang sebenarnya tidak bersifat hitam-putih, tetapi terdiri dari jutaan corak abu-abu dan warna lainnya. Realitas secara utuh tidak dapat diungkapkan.

Sumber :
Garvey, James. 2010. 20 Karya Filsafat Terbesar. Yogyakarta: Kanisius
Hamersma, Harry. 1983. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta : Gramedia
Hartoko, Dick. 1995. Kamus Populer Filsafat. Jakarta Utara: RajaGrafindo Persada
Mulyana, Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya
Rakhmat, Jalaluddin.1985. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja rosdakarya
Rapat, Jan Hendrik. 1996. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kansius
Sindhunata, 1982. Dilema Usaha Manusia Rasional: Kritik Masyarakat Modern oleh      Max Horkheimer dalam Rangka Sekolah Frankfurt. Jakarta: Gramedia







[1] Garvey, James. 2010. 20 Karya Filsafat Terbesar. Yogyakarta: Kanisius, hal 177-178
[2]Ibid, hal 176-177
[3] Hamersma, Harry. 1983. Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern. Jakarta : Gramedia, hal. 43
[4] Ibid, hal. 42

Thursday, 18 October 2012

Kampung Adat Cirendeu, Desa Wisata Ketahanan Pangan



Halo sahabat Peta.. Kalau sahabat main ke Kota Cimahi, jangan lupa mampir ke tempat wisata yang juga dapat memberikan pengetahuan budaya. Namanya Kampung Adat Cirendeu. Kampung Adat ini bisa jadi salah satu lokasi yang bagus lho untuk dikunjungi. Letaknya tidak jauh dari pusat Kota, tepatnya di Kelu, Leuwi Gajah, Kota Cimahi. Kampung Adat yang terletak tidak jauh dari pusat Kota Cimahi ini dapat memberikan informasi yang lebih deh untuk sahabat.
Kampung Adat Cirendeu dihuni oleh kurang lebih 300 Kepala Keluarga. Sebagian besar warga Kampung Adatnya bermatapencaharian sebagai petani. Mereka memiliki lahan pribadi, maupun kelompok. Setiap Senin hingga Sabtu, mereka mengolah lahan pribadinya, nah pas hari Minggu, baru deh mereka menggarap lahan kelompok, yang hasil panennya akan dibagikan secara proporsional. Mereka mengelola singkong, dan tanaman tumpang sari seperti jagung, talas, dan kacang-kacangan.
Pusat sentral dari Kampung Adat Cirendeu itu berada pada Bale Salesehan, yaitu suatu ruangan persegi yang terbuat dari bambu dengan beberapa pigura penghargaan dan foto yang terpampang di dinding. Di bele Salesehan, terdapat beberapa jenis alat musik tradisional Sunda. Bale Salesehan ini merupakan pusat sentral yang multifungsi, karena biasa digunakan untuk berbagai keperluan, seperti tempat melakukan pernikahan adat, upacara pasuraan, ruang rapat, dan juga tempat untuk menerima tamu.
Sebagian warga Kampung Adat di sana memeluk sistem kepercayaan yang biasa kita kenal dengan nama Sunda Wiwitan, itu looh agama kepercayaan yang diwariskan oleh nenek moyang sebelum Islam masuk ke tanah Jawa. Dalam prosesi pernikahan adat agama kepercayaan ini, mereka menggunakan istilah ikral, yaitu pernyataan janji oleh kedua pihak mempelai sebagai Ijab Kabul dan syarat sah pernikahan bagi penganut agama kepercayaan. Kedua mempelai belum dapat dikatakan menikah sebelum melakukan ikral. Setelah itu, dilanjutkan dengan ngeyeug seureuh, siraman, dan ngaras, yang merupakan adat pernikahan Kampung Adat.
Setiap tanggal 1 dan 2 Suro, warga Kampung Adat m punya tradisi adat lho sahabat. Mereka melakukan upacara sakral yang dinamakan Passuran. Pada hari pertama, mereka melakukan upacara sakral di Bale Salesehan. Kegiatan hari pertama ini dikhususkan bagi pihak warga Kampung Adat saja sahabat. Dalam ritualnya, mereka mengucap syukur atas hasil panen yang selalu dapat memenuhi kebutuhan. Sedangkan pada hari kedua digunakan untuk pertunjukan seni yang biasa dilakukan di lapangan yang lokasinya bersebelahan dengan Bale Salesehan.
O iya Sahabat Peta, Anak-anak warga Kampung Adat diajarkan menulis aksara Sunda lho di rumah yang bersebelahan dengan Bale Salesehan. Biasanya sih setiap minggu sore. Pengajarnya itu para pemuda yang sudah mendapatkan pengajaran oleh pemuda saat itu semasa masih anak-anak dulu. Jadi ilmunya turun-temurun nih Sobat. Selain aksara Sunda, anak-anak juga kerap diajarkan bermain musik. Celempung, karinding, angklung, dan saron merupakan beberapa jenis alat musik yang sering dimainkan. Mau ikutan main? Boleh kok!
Lalu, apa lagi ya yang membedakan Kampung Adat Cirendeu dengan Kampung Adat di kota lain? Warga Kampung Adat Cirende itu mempunyai kebiasaan memakan nasi singkong sebagai makanan pokoknya. Ya, sama kaya judul artikel ini, Desa Wisata Ketahana Pangan. Inilah salah satu alasan yang membuat Kampung Adat Cirendeu terkenal, bahkan sampai ke Amerika. Adat mengikat para warganya untuk tetap memakan nasi singkong, mereka menyebutnya dengan istilah sangueun. Begitu menurut Kang Ogi Suprayogi, salah satu warga Kampung Adat. Katanya ada perasaan bersalah dalam hati jika ia memakan nasi yang terbuat dari beras. O iya Sahabat Peta, Kebiasaan mengonsumsi nasi singkong ini  menjadikan Kampung Adat Cirendeu tidak mengalami krisis pangan lho, apalagi sampai berebut raskin alias beras miskin. Malah Kampung Adat Cirendeu mendapat julukan sebagai Desa Wisata Ketahanan Pangan. “Te boga sawah asal boga pare, teu boga pare adal boga beas, teu boga beas asal nyangu, teu boga sangu asal kuat,” begitu kata Kang Jajat Sudrajat, salah satu warga yang kami temui di Bale Salesehan. Selain dibuat sebagai makanan pokok, mereka juga mengolah singkong menjadi berbagai macam jenis jajanan khas Cirendeu yang bisa kita beli untuk dijadikan oleh-oleh sebelum pulang. Waaaa bisa bawa oleh-oleh nih.
Banyak hal kan yang dapat kita ketahui dengan berwisata ke Kampung Adat Cirendeu? Kalau mau lihat langsung gimana sih suasana di sana, datang aja ke Kampung Adat Cirendeu
_nida choirun nufus